Beranda > Umum > ROHIDIN, SULTAN PATRA KUSUMAH VIII

ROHIDIN, SULTAN PATRA KUSUMAH VIII

Rohidin, Sultan Patra Kusumah VIII

“Kami ingin Sela Cau Dijadikan Wilayah Istimewa seperti Wilayah Kesultanan Lainnya di Jogjakarta”

Ditemui di kediamannya di Cagar Budaya Sela Cau, Rohidin yang lebih dikenal dengan Sultan Patra Kusumah VIII dengan lugas dan jelas memaparkan sejarah berdirinya Kerajaan Sela Cau.

Berlokasi di Kampung Nagaratengah Desa Cibungur Kecamatan Parungponteng Kabupaten Tasikmalaya,  Rohidin mengklaim dirinya sebagai putra mahkota Kerajaan Sela Cau yaitu Sultan Generasi  ke delapan Kerajaan Sela Cau.

Menurut Rohidin, dirinya bercita cita ingin melestarikan sejarah dan budaya sunda.

“Dasar kami adalah budaya, kami akan memberitahu kepada orang yang belum tahu, dan mengajak warga masyarakat yang merasa orang sunda untuk peduli terhadap budayanya” ,ujarnya.

Terlepas benar dan tidaknya kerajaan Sela Cau ini, berikut hasil penelusuran kami tentang sejarah keberadaan Kerajaan Sela Cau yang berhasil kami rangkum dari petikan wawancara kami dengan Rohidin, Sultan Patra Kusumah VIII pada hari Kamis (25/11)

Pada taun 1549M/969H, Wali Songo beserta Pandawa Lima ini dan anggota-anggota yang sudah sepenanggungan ini sepakat mendirikan sebuah organisasi yang dinamakan ”Sela Cau” kenapa organisasi itu dinamakan Sela Cau?, karena Pandawa Lima yang anggotanya mempunyani lima yang sangat tinggi, dan Sela Cau di ambil dari ujukan-ujukan musuhnya, yaitu ketika pandawa lima dan anggotanya terseret atau terdesak oleh musuh mereka selalu berlindung di rimbunnya pohon cau sehingga musuh tidak melihat dan, sesuai dengan wilayah tanah pasundan, dari mula dulu sampai sekarang tanah pasundan dipenuhi oleh kebun cau yang ada dimana-mana, dari mulai tanaman rakyat yang pada kebanyakan rakyat itu menanam cau. Kata cau adalah: kata yang diambil dari bahasa ”Sunda ” yang berarti ”Pohon Pisang” . dan akhirnya mereka diberi gelar ”Sunan Sela Cau”. Maka gelar sunan sela cau itu abadi, sampai sekarang banyak tokoh atau kiyai  yang bertawasul kepada ”Sunan Sela Cau” makanya dalam setiap hajatan dan tasakuran orang-orang selalu menghormatinya atau mendoakan atas jasa-jasanya dan mengharapkan Sari’at, kehormatan atau maunat dari bertawasul kepada ”Sunan Sela Cau” tersebut, yang sangat terkenal kesaktiannya dan kegigihannya dalam memperjuangkan syiar agama islam ini.

Perjuangan sunan sela cau yaitu: menbangun pemerintah sementara dibawah pimpinan sultan Cirebon, yang pada waktu itu sudah dipimpin oleh “Sultan Pangeran Pasarean” yang didampingi senopati patahilah, atau yang bergelar kibagus pasai. Itu setelah berakhirnya Agresi Militer atau serangan ke galuh. Wafatnya Raden Ariya Kiban dan Raden Cakra Ningkrat (Raja Galuh) atas perintah Sultan Cirebon, pemerintahan di Galuh di perluas lagi sampai Tasikmalaya , Garut dan Sumedang, dalam memperluas jaringan pemerintah.

Pemerintah yang dimotori oleh Sunan Sela Cau telah sampai penyebaran atau perluasannya hingga ke pamijahan tasikmalaya. Dengan hasil kesepakatan Sunan Sela Cau menetaplah di wilayah Sunan Sela Cau yang berada disebelah selatan kabupaten tasik malaya yaitu:

  1. Kecamatan Parung Ponteng
  2. Kecamatan Sodinghilir dan,
  3. Kecamatan Bantar Kalong

dan Sunan Sela Cau menetaplah di wilayah itu terutama di wilayah pamijahan adalah bekas salah satu kediaman Sultan Aulia Allah yaitu:”Syekh Abdul Qodir Djaelani”. Setelah lama menetap di wilayah sela cau dengan perjuangan yang sangat panjang, maka terkenallah Sunan Sela Cau itu sampai ke pelosok Nusantara . termasuk Mataram dan sekitarnya.

Maka selama itu sunan sela cau sudah ada pada priode atau jaman kejayaan wali songo, sebelum datangnya syekh abdul Muhyi ke pamijahan. Datangnya Syekh Abdul Muhyi ke pamijahan karena dapat utusan untuk membangun wilayah istimewa pamijahan. Karena adanya keberhasilan pasukan rahasia yang dipimpin oleh ”Raden Patra Kusumah”, dalam memperluas agama islam termasuk mempersempit kekuasaan padjadjaran karena pada waktu itu kerajaan Padjdadjaran beragamakan hindu setelah syekh h. Abdul Muhyi ke pamijahan dengan berbagai macam rintangan, menurut cerita ketika itu datanglah seorang kakek-kakek bertamu ke pamijhan yaiut : Raden Patakusuma dan kebetulan pada waktu itu Syekh H. Abdul Muhyi berada di masjidil harom mekah lagi salat dekat ka’bah tepatnya batu hajar aswad karena kesaktiannya beliau tahu bahwa di rumah pamijahan ada tamu yaitu: pemimpin Sunan Sela Cau, dalam benaknya Syekh Abdul Muhyi ingin menguji dan mencoba kesaktiannya raden patra kusuma itu, dan syekh abdul muhyi pulang kerumahnya pamijahan setelah sampai dirumahnya Syekh Abdul Muhyi beramah tamah atau menemui raden patra kusuma itu. Setelah lama bersenda gurau dengan Reden Patra Kusuma Syekh Abdul Muhyi berbicara ”maaf sebelum meneruskan obrolan saya ketinggalan tasbih di ka’bah mau di ambil dulu” itu kata syekh abdul muhyi kepada raden patra kusuma sudah tau bahwa, syekh abdul muhyi mau menguji dirinya. Dengan sikap ramah beliau menawarkan jasa kepada Syekh H. Abdul Muhyi dengan sikap yang ramah raden patra kusuma berkata sambil duduk bersila dan tidak merubah anggota badannya ”biar akan saya ambilkan” selesai beliau berbicara ternyata tasbih yang ditinggalkan syekh Abdul muhyi itu sudah ada di depannya, maka pada waktu itu Syekh H Abdul Muhyi berkata ”maha suci allah ternyata benar-benar raden patra kusuma itu adalah orang yang Saktimantraguna”.

Pada waktu itu Syekh Abdul Muhyi sangat muda dibanding dengan raden patra kusuma yang usianya suadah lanjut (senja). Dalam kiprah kejayaan organisasi sela cau itu ! diresmikan organisasi itu pada tahun 969 H, bertepatan dengan tahun 1589 M. Kesimpulan kejayaan organisasi sunan sela cau 40 tahun. Menurut cerita usia orang-orang sunan sela cau mencapai rata-rata diatas 200 tahun.  (TIM)

 

 

Categories: Umum
  1. Xcha Rotten
    25 November 2010 pada 22:33 | #1

    wah…. feodalism… yang selalu mengagung2kan cerita2 yang terdahulu…

    • sasmito
      18 Mei 2011 pada 10:30 | #2

      indonesia tak lepas dari sejarah, bahkan al quran penuh dg sejarah masa lalu dan dijadikan panutan, kalau berbuat begini berakibat begini. emg kamu lahir dari mana ? bukankah dr sejarah ibumu

    • cucu suryaman
      23 Mei 2012 pada 10:29 | #3

      Punteun ngiringan yeuh…jaman sekarang yang dibutuhkan adalah pemimpin yang bener ngurus rakyat supaya masyarakat sejahtera catatan “ga usah ngeributin kang rohidin” kalau kang rohidin memang layak jadi pemimpin dan bisa memberikan kenyamanan dan kesejahteraan masyarakat wilayah tasik selatan kan lebih bagus, kalau ternyata belum mampu ya ga apa2 juga. keteladan, jiwa pemimpin bukan diukur oleh keturunan tapi kejujuan, keikhlasan dan kemampuan mengayomi rakyatnya. stop komentar negatif berikan ruang buat kang rohidin, semoga kang rohidin bisa memberikan manfaat bagi masyarakat. semoga

  2. Sule
    26 November 2010 pada 07:52 | #4

    Beuh, ada sultan di parung ponteng?

  3. Kchadafi
    27 November 2010 pada 13:53 | #5

    Berarti sama Saya Juga , Turunan sultan , Bahkan saya dari dulu dah dapet julukan SULTAN SELA PAHA Karena saya dilahirkan dari sela2 Paha,,,,,,xixixixi

    • DJUNAEDI perlu bukti
      1 April 2012 pada 03:38 | #6

      haha hahah hahah lucu2

  4. Abah Nolednad
    27 November 2010 pada 18:21 | #7

    Abi ge rai sultan, sultan Jorghi

  5. Mbah Takokak
    27 November 2010 pada 18:29 | #8

    Parungponteng ada sultan? Kenapa ga dari dulu? Ada ada aja ah? Bener ga neeh? Serius ga? Ah…. Jangan main main ah…, tolong Taselamedia cari berita nya jangan kata orang. Tapi harus wawancara langsung tuh ke lokasi sultan nya, d mana ada sultan? Mana ada sultan di parung ponteng.

  6. Dulloh
    27 November 2010 pada 21:38 | #9

    Sultan KAMALANGKEM,, HA HA HA

    • Abah
      1 Desember 2010 pada 23:10 | #10

      Pada Hari Selasa 07/12/2010 merupakan pemberitahuan, dalam rangka Kegiatan Milad akan dirangkaikan dengan Penobatan Senopati Anom Kasultanan Sela Cau

    • momot
      31 Januari 2012 pada 13:04 | #11

      dulloh ente datang sini….kalo dah ketemu.baru koment…

  7. Maman
    27 November 2010 pada 21:41 | #12

    Jangan pada diledek pa , biarin aja dia punya hak untuk BERHAYAL JADI SULTAN ini kan Negara Bebas mao ngaku Adik nya Ratu Wihelmina Juga Syah syah saja Paling paling orang yg Percaya nya , dianggap Sress he he

  8. Maman
    29 November 2010 pada 23:34 | #13

    HA HA HA HU HU HU HU HUUU HUU H UU HH HI HI HI HI HA HA HA HA HA DI PARUNG PONTEENG ???? HA HA HA HA JANGAN PADA BENCANDA DONG HA HA HA

  9. eje
    1 Desember 2010 pada 02:33 | #14

    balad wa kepoh ieu mah…..

  10. didit
    1 Desember 2010 pada 22:34 | #15

    kalau emang begitu benar adanya, tentu ada dalam cerita sejarah, atau setidaknya pernah disebut dalam cerita kesultanan lainnya, dan juga pasti ada bukti otentik tentang hal tersebut, adapun kalau dia hanya mengada2 orang lain yang akan menilainnya

  11. asep
    2 Desember 2010 pada 15:47 | #16

    hebat eng..tasela aya..SULTAN..ngan eta namina mani sela cau

    • DJUNAEDI perlu bukti
      1 April 2012 pada 03:44 | #17

      eh di gentos ameh rada keren jai sela majid…………sela mat ulang tahun…………mar sela jalianti………..sela lu berkhayal…………sela lu sela……….ngkangan dari ibumu sasmito ngak nyambung antara quran jadi panutan denga sela cau dengan sasmito

  12. Xcha Rotten
    2 Desember 2010 pada 22:41 | #18

    nanti kawan2 sultan sela Pisang akan minta otonomi sendiri dan duduk di singgasana raja seperti DIY….. hah…. “Saya lah sang Raja : mohon dengan Hormat kalian harus tunduk dan sujud kepada Saya” “saya akan membuat kalian Bahagia dan bersahaja dan kalian tidak usah bekarja” sebab saya sendiri tidak kerja dan gila tahta….

    • H. Jana
      8 Januari 2011 pada 22:12 | #19

      Aing geus ngutus jelema keur neangan sia, mun kapanggih ceuk agama ge getih sia mah halal, tukang ngahina ka Ulama. Mun panasaran teang aing ka Pasantren Syekh Abdul Muhyi.

    • rianti
      19 September 2011 pada 22:31 | #20

      mani galak….h jana…

  13. Zidan
    6 Desember 2010 pada 12:48 | #21

    Banyak pejabat terlahir dari Parungponteng, eh sekarang ada sultan juga dari Parungponteng

  14. 7 Desember 2010 pada 13:20 | #22

    saya sangat bangga jadi orang tasikmalaya selatan,,,,,bravo tasel….

    • DJUNAEDI perlu bukti
      1 April 2012 pada 03:47 | #23

      ikut2an error

  15. H. Jana
    8 Januari 2011 pada 22:06 | #24

    Semoga Allah melaknat orang-orang yang suka memperolok-olokan para keturunan Aulia, Syekh Abdul Muhyi dan Sunan Patra Kusumah adalah ulama yang menyebar Islam di tatar Sunda pada zamannya, dan ciri-ciri orang yang membenci warisan para Ulama itulah musuh kita yang nyata. Dan demi kemuliaan kita rela beradu nyawa dengan mereka.

    • 29 Oktober 2011 pada 01:42 | #25

      H. Jana :
      Aing geus ngutus jelema keur neangan sia, mun kapanggih ceuk agama ge getih sia mah halal, tukang ngahina ka Ulama. Mun panasaran teang aing ka Pasantren Syekh Abdul Muhyi.

      bkn mslh ulama nya,,,,,,!! tp yg jd sultan skrg knp g dr dlu lw tu memang bnr da nya…..!! jangan galak gt donk hj jana biasa j x

  16. ending supratman
    25 Januari 2011 pada 16:14 | #26

    Ulah waka emosi,keun urang bandungan we heula,jiga kumaha jeung kumaha lalakonna pangna bisa aya kasultanan di Cibungur…sok, diantos pedaran salajengna !

  17. cep badru
    18 Februari 2011 pada 17:36 | #27

    sultan? yaa salaaam…

  18. 24 Maret 2011 pada 20:07 | #28

    Abdi keturunan cibungur, tp nembe nguping aya kasultanan, upami leres abdi ngiring bangga, tp..punten buktoskeun secara resmi ( secara pemerintah ), supados teu janten hina ngahina, sareng eta cara merespon komentar naha kasar, ma enya kasultanan klasar kitu, pake kepala dingin donk, ulah sok jagoan, diantos infona yeuh

  19. Hamba Allah
    1 Mei 2011 pada 14:02 | #29

    abi turut ngadukung,,da jalan hoyong di omean…

  20. Putra Parungponteng
    6 Mei 2011 pada 05:48 | #30

    Telah Hadir PATRAKUSUMAH TELEVISI

  21. sasmito
    18 Mei 2011 pada 10:27 | #31

    selamt ats mengudaranya PK VIII TV, smg bisa lbh mendekatkan diri dg masyarakat dan memberikan manfaat lebih untuk masyarakat TASIK KHUSUSnya dan INDONESIA pada umumnya,dg memberikan program -program karya nyata yg bs di rasakan lgs oleh masyarakat, tdk dg janji – janji kosong belaka.Sekarang waktunya berkarya dan bekerja dan terus bekerja sampai rakyat sejahtera.(Itu tujuam utama PK VIII, kalian yg mengolok-ngolok jangan seperti orang YAHUDI di masa jamanya ROSULULLOH SAW, kalau tdk bs berkata baik sebaiknya “DIAM” bukankah orang SUNDA terkenal adat sopan santunya yg tinggi, atau kalian hanya pendatang) tks. SALAM HD

    • abang
      12 September 2011 pada 22:48 | #32

      sok lah rameken sela cau

    • DJUNAEDI perlu bukti
      1 April 2012 pada 03:50 | #33

      karya nyata dari sekarang bukan gila tahta ngeus ngaku jadi sultan ayena hayang jadi presiden atuh jadi gubernur we heula majukeun budaya sunda jeung perekonomian masyarakat sunda orang yang menyebut yahudi kepad muslim berarti manehna yahudi……..apal teu??????????????????

  22. 17 Juni 2011 pada 16:09 | #34

    selamat atas hadirnya PK TV dan radio Citra Yudha parung Ponteng. “by pelaku seni/budaya, jurnalist bdg jabar…”

  23. nazura alfat cior
    27 Juni 2011 pada 00:59 | #35

    sing bener wae ulah ngagade keun taneh masyarakat kaluar negri bisi di gorok ku urang cibungur.

  24. nazura alfat cior
    27 Juni 2011 pada 01:04 | #36

    bapa maneh ge teu apaleun turunan komo maneh ,jol2 ngaku sultan ,ari hulu sapi kamanakeun ku maneh .boa boaaaa……….????????????

  25. puntn
    2 Agustus 2011 pada 12:06 | #37

    astagfirulloh, maaf, apakah ini masih ada dlm aturan al-qur’an dan sunah rosul???
    bisa d pertanggung jawabkan pekerjaan kita nantinya di hadapan alloh???

  26. 17 Agustus 2011 pada 03:30 | #38

    indonesia adalah negara yang suka menelantarkan sejarah…
    kesultanan selacau sudah diakui keberadaannya oleh PBB
    dokumen resmi nya ada d belanda . .

  27. 17 Agustus 2011 pada 03:32 | #39

    silahkan d check :) rahayu _/|\_
    http://www.bataviase.co.id/node/541772

  28. 30 Agustus 2011 pada 11:13 | #40

    maju terus kang.salam andi PPn 020 jkt

  29. 10 September 2011 pada 05:42 | #41

    soklah….. Simkuringmh bd ngabaungan!!

  30. abang
    12 September 2011 pada 22:52 | #42

    lamun emang bener angkat perekonomian orang sela cau. karunya ey!

  31. ancik
    19 September 2011 pada 22:15 | #43

    timana kamana atuh kesultanan selacau teh

  32. 21 September 2011 pada 13:35 | #44

    “bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa-jasa para pahlawannya”, semoga kesultanan selacau itu benar dan betul adanya karena ini semua merupakan peninggalan warisan sejarah dan budaya, kita harus bangga memiliki keanekaragaman sejarah dan budaya. Bravo utk kesultanan kami siap mendukung, maju terus dan pantang mundur. jalan terus dan sejarah akan mencatat Anda paduka Sultan.

  33. ario panekeer
    24 September 2011 pada 22:37 | #45

    mantaap di sodomg hilir ada sultan saya mah ngadukung waeee,,,,lah,semoga benar adanya

    • syam
      28 November 2011 pada 11:21 | #46

      saya masih ragu, karena disitu dikatakan dipamijahan pernah singgah syech abdul qodir jaelani, benar nggak tuh…… dalam sejarah kuno tidak ada nama kesultanan sela cau, yang terkenal didaerah tasik adalah kerajaan sukapura, dan keturunan dalem sawidak….. coba lacak kebenaran itu kesultanan….. jangan membuat rakyat bingung…..

  34. Edi Kusmayadi
    26 September 2011 pada 10:08 | #47

    Trim’s dan selamat atas terbitnya majalah bulanan Patra Kusumah, semoga isinya dapat memberikan pencerahan kepada masyarakat luas, dan memberi informasi yang benar dan positif. Contohnya : Silsilah PK VIII dengan silsilah kerajaan sunda atau kerajaan yang pernah ada di Jawa Barat tidak nyambung, Kedua, dalam sejarah kerajaan Sukapura tidak pernah disinggung adanya kerajaan Sela Cau, bagi saya yang awam dalam sejarah sunda, menjadi pertanyaan besar ; apakah kerajaan Sela Cau memang pernah ada ? atau kerajaan Sela Cau adalah sebuah kerajaan Imaginer ? hapunten nu kasuhun hoyong aya klarifikasi ti pangersa.

    • 8 Maret 2012 pada 15:40 | #48

      Kesultanan selacau iti pernah berdiri pada tahun 1549-1589, pada masa kerajaan Sunda/Galuh Pakuan diterpa prahara Sunda Kalapa. Masa pergantian Prabu Jaya Dewata-Prabu Siliwangi ke Prabu Surawisesa (Jaya Perkasa) sehingga pada tahun 1527 Sunda Kalapa jatuh ke Fatahillah,dia mengklaim sebagai wilayah kekuasaannya, maka sebagian dari pengikut Prabu Surawisesa bersama Prabu Susuk Tunggal Kakeknya mendirikan Kesultanan Selacau Tunggul Rahayu yang dianggkat menjadi sultan adalah Patra Kusumah, menantunya yang berasal dari Mataram, dengan pangkat Senapati, putra dari Seikh Ahmad Panembahan. Dimana saat ini sisa-sisa peninggalan sejarahnya masih ada termasuk makam-makam Raja Sultan dan para pengagunggnya masih dilestarikan oleh cagar Budaya yang didirikan oleh Rohidin bin Saepuloh generasi ke VIII dari Sultan Patra Kusumah. Kesultanan runtuh dikarenakan penghianatan salah satu pengagung berpangkat Demang, yang bekerjasama dengan Mataram. Karena pada waktu itu Mataram, ketika dipimpin Hanyokrowati sedang berjaya, ditambah setelah dipimpin Sultan Agung Hanyokrokusumoh(Raden Rangsang) bercita-cita menaklukan seluruh kerajaan ditanah Jawa dengan simbol Mataram Adi Luhung Jawa Dwipa.
      Saya atas nama keturunan Sultan Patra Kusumah menyadari atas semua tanggapan pro dan kontra,adalah hak saudara.Tapi upaya saya ini dalam rangka turut serta membantu program pemerintah dalam melestarikan Sejarah Budaya berdasarkan UUD ’45 pasal 28i ayat 3; Budaya adalah hak masyarakat, negara menjungjung tinggi selaras dengan kemajuan jaman, mengacu kepada UU 1992 No. 5 dan No 27 yang sudah disempurnakan dengan terbitnya UU Cagar Budaya No. 11 th 2010.
      Saya atas nama pribadi sangat menyayangi saudara semua.atas kritik dan saran saya terima dengan ikhlas,semoga Tuhan Yang Maha Kuasa memaafkan atas kekhilafan kita semua.
      Upaya saya dan pekerjaan yang saya lakukan saya rasa setelah dipertimbangkan tidak merugikan kalian begitu juga menghambat program-program pemerintah.Urusan keyakinan beragama saya sangat menjungjung tinggi Bhineka Tunggal Ika dan Pancasila. Agama Pribadi dan keluarga saya Islam.Patokan saya dalam beragama Lakum dhinukum waliyadin.sekali lagi saya ucapkan terimakasih kepada seluruh yang memberikan komentar tentang cagar Budaya yang saya kelola.Salam sejahtera, semoga kedamaian kita dapat raih bersama.

      ttd. Rohidin bin Saepuloh
      ketua cagar Budaya Selacau Tunggul Rahayu dengan nama marga keluarga besar Sultan Patra Kusumah

    • muhammad
      31 Maret 2012 pada 11:12 | #49

      Kesultanan selacau iti pernah berdiri pada tahun 1549-1589, pada masa kerajaan Sunda/Galuh Pakuan diterpa prahara Sunda Kalapa. Masa pergantian Prabu Jaya Dewata-Prabu Siliwangi ke Prabu Surawisesa (Jaya Perkasa) sehingga pada tahun 1527 Sunda Kalapa jatuh ke Fatahillah,dia mengklaim sebagai wilayah kekuasaannya, maka sebagian dari pengikut Prabu Surawisesa bersama Prabu Susuk Tunggal Kakeknya mendirikan Kesultanan Selacau Tunggul Rahayu yang dianggkat menjadi sultan adalah Patra Kusumah, menantunya yang berasal dari Mataram, dengan pangkat Senapati, putra dari Seikh Ahmad Panembahan. Dimana saat ini sisa-sisa peninggalan sejarahnya masih ada termasuk makam-makam Raja Sultan dan para pengagunggnya masih dilestarikan oleh cagar Budaya yang didirikan oleh Rohidin bin Saepuloh generasi ke VIII dari Sultan Patra Kusumah. Kesultanan runtuh dikarenakan penghianatan salah satu pengagung berpangkat Demang, yang bekerjasama dengan Mataram. Karena pada waktu itu Mataram, ketika dipimpin Hanyokrowati sedang berjaya, ditambah setelah dipimpin Sultan Agung Hanyokrokusumoh(Raden Rangsang) bercita-cita menaklukan seluruh kerajaan ditanah Jawa dengan simbol Mataram Adi Luhung Jawa Dwipa.
      Saya atas nama keturunan Sultan Patra Kusumah menyadari atas semua tanggapan pro dan kontra,adalah hak saudara.Tapi upaya saya ini dalam rangka turut serta membantu program pemerintah dalam melestarikan Sejarah Budaya berdasarkan UUD ’45 pasal 28i ayat 3; Budaya adalah hak masyarakat, negara menjungjung tinggi selaras dengan kemajuan jaman, mengacu kepada UU 1992 No. 5 dan No 27 yang sudah disempurnakan dengan terbitnya UU Cagar Budaya No. 11 th 2010.
      Saya atas nama pribadi sangat menyayangi saudara semua.atas kritik dan saran saya terima dengan ikhlas,semoga Tuhan Yang Maha Kuasa memaafkan atas kekhilafan kita semua.
      Upaya saya dan pekerjaan yang saya lakukan saya rasa setelah dipertimbangkan tidak merugikan kalian begitu juga menghambat program-program pemerintah.Urusan keyakinan beragama saya sangat menjungjung tinggi Bhineka Tunggal Ika dan Pancasila. Agama Pribadi dan keluarga saya Islam.Patokan saya dalam beragama Lakum dhinukum waliyadin.sekali lagi saya ucapkan terimakasih kepada seluruh yang memberikan komentar tentang cagar Budaya yang saya kelola.Salam sejahtera, semoga kedamaian kita dapat raih bersama.
      ttd. Rohidin bin Saepuloh
      ketua cagar Budaya Selacau Tunggul Rahayu dengan nama marga keluarga besar Sultan Patra Kusumah

  35. salam_sono
    7 Oktober 2011 pada 14:33 | #50

    bismillaahhirrohmaanirrohiim ….

  36. salam_sono
    7 Oktober 2011 pada 14:35 | #51

    mugia janten cacaang

  37. cep
    31 Oktober 2011 pada 12:25 | #52

    H. Jana :
    Aing geus ngutus jelema keur neangan sia, mun kapanggih ceuk agama ge getih sia mah halal, tukang ngahina ka Ulama. Mun panasaran teang aing ka Pasantren Syekh Abdul Muhyi.

    Subhanallah Pa HAJI JANA sepertinya kata2 anda kurang pantas keluar dri mulut seorang yang menyandang gelar HAJI apakah anda bersikap sama ketika ada orang australia menghina nabi besar kita Muhammad SAW sepertinya engga….. semoga Allah mengampuni anda..

  38. surta
    10 November 2011 pada 01:14 | #53

    puguh heueuh da aslina aya jelema loba duitna teuing timana ? da cenah boga duit 9750 rebu triliun , turutan we ari bisamah da si sultan eta mah tara menta duit ka bank teu cara pejabat nu aya di indonesia sok marenta sanajan ka rakyat miskin, mending di pimpin ku sultan rohidin

    • DJUNAEDI perlu bukti
      1 April 2012 pada 03:58 | #54

      lestarikan cagar budaya………..tapi harus ada bukti dan prasasti batu tulis sejarah peninggalan kesultan yang tertulis….??? kenapa tidak bapak saepuloh jadi sultan yang masih hidup ………..ah gila tahta nya ih…….mabok

    • maria
      11 April 2012 pada 22:10 | #55

      assmuallaikum……pak haji jana, mnding datangin aja, secara baik”,, kmi juga selaku warga udh pada resah dgn smua itu,, wasalamualaikum

  39. Orang aring
    26 November 2011 pada 17:34 | #56

    Kayanya pa H JANA blm cukup umur untuk menyandang haji, bahasanya arogan banget, sepetinya masih balita

    • yudha manggala
      6 Maret 2012 pada 18:44 | #57

      sip. masa ada pak haji bahasanya seperti itu???
      preman juga tidak terlalu seperti itu
      jangan-jangan pak haji naik hajinya ke tanah abang…..hehehe
      jadi haji tanah abang kaleeeee

  40. Dani
    28 November 2011 pada 06:17 | #58

    Aya aya wae…

    • magrib
      31 Desember 2011 pada 23:39 | #59

      muhun akang aya2 wae kudu kumaha nya? leres etateh kang daabimah asa ngimpi.

  41. oji
    28 November 2011 pada 16:58 | #60

    pak sultan mau di pasang CCTV biar tempat pak sultan aga canggih.

  42. km taruna wijaya
    12 Desember 2011 pada 22:51 | #61

    cageur pa rohidin ??????? ti kuring IKAMUGA GROUP

  43. magrib
    31 Desember 2011 pada 23:36 | #62

    sok lah luuuur…….. sing bener

  44. 14 Januari 2012 pada 13:49 | #63

    sok sing maju kang rohidin , batur mah kur bisa kumetap

    • yudha manggala
      6 Maret 2012 pada 18:50 | #64

      leres pisan.
      urang mah te kedah seueur carios nu tepararuguh
      urang bandungan w

  45. tukang laukasin
    21 Januari 2012 pada 22:26 | #65

    kalo bener, ya jalanlah yg ‘lurus’ en emosi kudu d jaga….
    yg kurang setuju, yah jgn d salahin lah , pan beda pandangn adalah ‘rohmat’

    sy ada tmn msh ‘kturunan’ kluarga kerajaan padjadjaran..(katanya loh), dia biasa aja, ekonomi sgt pas2an bgt, tukang urut lg, secara fisik sgtlah biasa…tapi dia sgt sopan,rendah hati, suka ‘nolong’ tnp d ketahui org…

    dan kata2nya yg sy suka sampe skg… ‘bersembunyilah d tempat yg terang’

    mudah2an keberadaan kturunan Sela Cau mmbawa berkah dan bukan perpecahan kaum muslim
    :-)

  46. anot
    11 Februari 2012 pada 22:53 | #66

    ha…ha…..

  47. LENESIA
    13 Februari 2012 pada 23:55 | #67

    BENER DUITNA LOBA,T PERCANTENMAH SUMPINGAN WE…..,MENDING DIPIMPIN KU SULTAN DA TARA MENTA DUIT

    • yudha manggala
      6 Maret 2012 pada 18:49 | #68

      yu atuh urang nganjang

    • riki
      14 Maret 2012 pada 21:29 | #69

      bener satuju lah.

    • SHOhei
      15 April 2012 pada 21:55 | #70

      haha haha pengandaan uang …………….sultan penipu…@ lensia menang sabaraha ti rohidin….kabeli mobil sabarah hiji anjeun….loaba duit teh kasejaterakeun masyarakat ??????????????

  48. Gea
    24 Februari 2012 pada 19:59 | #71

    Ah I Don’t care about that, negara z ancur2n apalagi tmbh ada y kya gni. Bkin rumah di dlm rumah.heum asa ku moal bres2. Apapun alasan’a….

  49. yudha manggala
    6 Maret 2012 pada 18:41 | #73

    Sinergikan 4 Plilar Berbangsa dan Bernegara,
    Kembali Ke UUD 1945 yang asli
    Merdeka !!!

  50. yudha manggala
    6 Maret 2012 pada 18:45 | #74

    H. Jana :
    Aing geus ngutus jelema keur neangan sia, mun kapanggih ceuk agama ge getih sia mah halal, tukang ngahina ka Ulama. Mun panasaran teang aing ka Pasantren Syekh Abdul Muhyi.

    • yudha manggala
      6 Maret 2012 pada 18:48 | #75

      pak haji sumpingan w atuh caket tidinyamah, langsung tepangan kana elef ongkosna 5 rebu, turunna di parapatan PB,tos terangen tukang elef na g ko ete didinya aya sultan center.

  51. riki
    14 Maret 2012 pada 21:48 | #76

    eureun kn pak pasir besi di cipatujah,ngaruksak jalan+keindahan daerah tasela nu kitu mh.

  52. yudha manggala
    16 Maret 2012 pada 21:50 | #77

    enya tah ka haji jana meh rada aya kagiatan,sok….atuh.ulah ngan saukur moyok wae!

  53. Yayat Sudrajat
    25 Maret 2012 pada 12:43 | #78

    Alloh mah ari arek teh tara jalir, mudah-mudahan aya barokahna

  54. DJUNAEDI perlu bukti
    1 April 2012 pada 03:37 | #79

    ngaku-ngaku sultan………….mana bukti prasasti……mana buku kuno……..mana ah error jelema teh………ngaku2 go internasional di aku kudunia ku pamemngpeuk ge teu wawuheun….tos gera tobat berdayaken masyarakat sekitar…ameh maju lain hayang maju jadi presiden ayena masyarakat di antep sadayanana pidamelan ti handap hela rek jadi gede teh……..

  55. DJUNAEDI perlu bukti
    1 April 2012 pada 04:37 | #80

    Pengganti Sri Baduga Maharaja adalah Surawisesa (puteranya dari Mayang Sunda dan juga cucu Prabu Susuktunggal). Ia dipuji oleh Carita Parahiyangan dengan sebutan “kasuran” (perwira), “kadiran” (perkasa) dan “kuwanen” (pemberani). Selama 14 tahun memerintah ia melakukan 15 kali pertempuran. Pujian penulis Carita Parahiyangan memang berkaitan dengan hal ini.

    Nagara Kretabhumi I/2 dan sumber Portugis mengisahkan bahwa Surawisesa pernah diutus ayahnya menghubungi Alfonso d’Albuquerque (Laksamana Bungker) di Malaka. Ia pergi ke Malaka dua kali (1512 dan 1521). Hasil kunjungan pertama adalah kunjungan penjajakan pihak Portugis pada tahun 1513 yang diikuti oleh Tome Pires, sedangkan hasil kunjungan yang kedua adalah kedatangan utusan Portugis yang dipimpin oleh Hendrik de Leme (ipar Alfonso) ke Ibukota Pakuan Pajajaran atau disingkat Pakuan atau Pajajaran (sekarang kota Bogor). Dalam kunjungan itu disepakati persetujuan antara Kerajaan Sunda dan Portugis mengenai perdagangan dan keamanan.

    Dari perjanjian ini dibuat tulisan rangkap dua, lalu masing-masing pihak memegang satu) Menurut Soekanto (1956) perjanjian itu ditandatangai 21 Agustus 1522. Ten Dam menganggap bahwa perjanjian itu hanya lisan. Namun, sumber Portugis yang kemudian dikutip Hageman menyebutkan “Van deze overeenkomst werd een geschrift opgemaakt in dubbel, waarvan elke partij een behield”.

    Dalam perjanjian itu disepakati bahwa Portugis akan mendirikan benteng di Banten dan Kalapa. Untuk itu tiap kapal Portugis yang datang akan diberi muatan lada yang harus ditukar dengan barang-barang keperluan yang diminta oleh pihak Sunda. Kemudian pada saat benteng mulai dibangun, pihak Sunda akan menyerahkan 1000 karung lada tiap tahun untuk ditukarkan dengan muatan sebanyak dua “costumodos” (kurang lebih 351 kuintal).

    Perjanjian Pajajaran – Portugis sangat mencemaskan Sultan Trenggana, Sultan Demak III. Selat Malaka, pintu masuk perairan Nusantara sebelah utara sudah dikuasai Portugis yang berkedudukan di Malaka dan Samudra Pasai. Bila Selat Sunda yang menjadi pintu masuk perairan Nusantara di selatan juga dikuasai Portugis, maka jalur perdagangan laut yang menjadi urat nadi kehidupan ekonomi Demak terancam putus. Trenggana segera mengirim armadanya di bawah pimpinan Fadillah Khan yang menjadi Senapati Demak.

    Fadillah Khan memperistri Ratu Pembayun, janda Pangeran Jayakelana. Kemudian ia pun menikah dengan Ratu Ayu, janda Sabrang Lor (Sultan Demak II). Dengan demikian, Fadillah menjadi menantu Raden Patah sekaligus menantu Susuhunan Jati Cirebon. Dari segi kekerabatan, Fadillah masih terhitung keponakan Susuhunan Jati karena buyutnya Barkta Zainal Abidin adalah adik Nurul Amin, kakek Susuhunan Jati dari pihak ayah. Selain itu Fadillah masih terhitung cucu Sunan Ampel (Ali Rakhmatullah) sebab buyutnya adalah kakak Ibrahim Zainal Akbar ayah Sunan Ampel. Sunan Ampel sendiri adalah mertua Raden Patah (Sultan Demak I).

    Barros menyebut Fadillah dengan Faletehan. Ini barangkali lafal orang Portugis untuk Fadillah Khan. Tome Pinto menyebutnya Tagaril untuk Ki Fadil (julukan Fadillah Khan sehari-hari).

    Kretabhumi I/2 menyebutkan, bahwa makam Fadillah Khan (disebut juga Wong Agung Pase) terletak di puncak Gunung Sembung berdampingan (di sebelah timurnya) dengan makam Susushunan Jati. Hoesein Djajaningrat (1913) menganggap Fadillah identik dengan Susuhunan Jati. Nama Fadillah sendiri baru muncul dalam buku Sejarah Indonesia susunan Sanusi Pane (1950). Carita Parahiyangan menyebut Fadillah dengan Arya Burah]

    Pasukan Fadillah yang merupakan gabungan pasukan Demak-Cirebon berjumlah 1967 orang. Sasaran pertama adalah Banten, pintu masuk Selat Sunda. Kedatangan pasukan ini telah didahului dengan huru-hara di Banten yang ditimbulkan oleh Pangeran Hasanudin dan para pengikutnya. Kedatangan pasukan Fadillah menyebabkan pasukan Banten terdesak. Bupati Banten beserta keluarga dan pembesar keratonnya mengungsi ke Ibukota Pakuan.

    Hasanudin kemudian diangkat oleh ayahnya (Susuhunan Jati), menjadi Bupati Banten (1526). Setahun kemudian, Fadillah bersama 1452 orang pasukannya menyerang dan merebut pelabuhan Kalapa. Bupati Kalapa bersama keluarga dan para menteri kerajaan yang bertugas di pelabuhan gugur. Pasukan bantuan dari Pakuan pun dapat dipukul mundur. Keunggulan pasukan Fadillah terletak pada penggunaan meriam yang justru tidak dimiliki oleh laskar Pajajaran.

    Bantuan Portugis datang terlambat karena Francisco de Sa yang ditugasi membangun benteng diangkat menjadi Gubernur Goa di India. Keberangkatan ke Sunda dipersiapkan dari Goa dengan 6 buah kapal. Galiun yang dinaiki De Sa dan berisi peralatan untuk membangun benteng terpaksa ditinggalkan karena armada ini diterpa badai di Teluk Benggala. De Sa tiba di Malaka tahun 1527.

    Ekspedsi ke Sunda bertolak dari Malaka. Mula-mula menuju Banten, akan tetapi karena Banten sudah dikuasai Hasanudin, perjalanan dilanjutkan ke Pelabuhan Kalapa. Di Muara Cisadane, De Sa memancangkan padrao pada tanggal 30 Juni 1527 dan memberikan nama kepada Cisadane “Rio de Sa Jorge”. Kemudian galiun De sa memisahkan diri. Hanya kapal brigantin (dipimpin Duarte Coelho) yang langsung ke Pelabuhan Kalapa.

    Coelho terlambat mengetahui perubahan situasi, kapalnya menepi terlalu dekat ke pantai dan menjadi mangsa sergapan pasukan Fadillah. Dengan kerusakan yang berat dan korban yang banyak, kapal Portugis ini berhasil meloloskan diri ke Pasai. Tahun 1529 Portugis menyiapkan 8 buah kapal untuk melakukan serangan balasan, akan tetapi karena peristiwa 1527 yang menimpa pasukan Coelho demikian menakutkan, maka tujuan armada lalu di ubah menuju Pedu.

    Setelah Sri Baduga wafat, Pajajaran dengan Cirebon berada pada generasi yang sejajar. Meskipun yang berkuasa di Cirebon Syarif Hidayat, tetapi dibelakangnya berdiri Pangeran Cakrabuana (Walasungsang atau bernama pula Haji Abdullah Iman). Cakrabuana adalah kakak seayah Prabu Surawisesa. Dengan demikian, keengganan Cirebon menjamah pelabuhan atau wilayah lain di Pajajaran menjadi hilang.

    Meskipun, Cirebon sendiri sebenarnya relatif lemah. Akan tetapi berkat dukungan Demak, kedudukannya menjadi mantap. Setelah kedudukan Demak goyah akibat kegagalan serbuannya ke Pasuruan dan Panarukan (bahkan Sultan Trenggana tebunuh), kemudian disusul dengan perang perebutan tahta, maka Cirebon pun turut menjadi goyah pula. Hal inilah yang menyebabkan kedudukan Cirebon terdesak dan bahkan terlampaui oleh Banten di kemudian hari.

    Perang Cirebon – Pajajaran berlangsung 5 tahun lamanya. Yang satu tidak berani naik ke darat, yang satunya lagi tak berani turun ke laut. Cirebon dan Demak hanya berhasil menguasai kota-kota pelabuhan. Hanya di bagian timur pasukan Cirebon bergerak lebih jauh ke selatan. Pertempuran dengan Galuh terjadi tahun 1528. Di sini pun terlihat peran Demak karena kemenangan Cirebon terjadi berkat bantuan Pasukan meriam Demak tepat pada saat pasukan Cirebon terdesak mundur. Laskar Galuh tidak berdaya menghadapi “panah besi yang besar yang menyemburkan kukus ireng dan bersuara seperti guntur serta memuntahkan logam panas”. Tombak dan anak panah mereka lumpuh karena meriam. Maka jatuhlah Galuh. Dua tahun kemudian jatuh pula Kerajaan Talaga, benteng terakhir Kerajaan Galuh.

    Sumedang masuk ke dalam lingkaran pengaruh Cirebon dengan dinobatkannya Pangeran Santri menjadi Bupati Sumedang pada tanggal 21 Oktober 1530. Pangeran Santri adalah cucu Pangeran Panjunan, kakak ipar Syarif Hidayat. Buyut Pangeran Santri adalah Syekh Datuk Kahfi pendiri pesantren pertama di Cirebon. Ia menjadi bupati karena pernikahannya dengan Satyasih, Pucuk Umum (Unun?) Sumedang. Secara tidak resmi Sumedang menjadi daerah Cirebon.

    Dengan kedudukan yang mantap di timur Citarum, Cirebon merasa kedudukannya mapan. Selain itu, karena gerakan ke Pakuan selalu dapat dibendung oleh pasukan Surawisesa, maka kedua pihak mengambil jalan terbaik dengan berdamai dan mengakui kedudukan masing-masing. Tahun 1531 tercapai perdamaian antara Surawisesa dan Syarif Hidayat. Masing-masing pihak berdiri sebagai negara merdeka. Di pihak Cirebon, ikut menandatangani naskah perjanjian, Pangeran Pasarean (Putera Mahkota Cirebon), Fadillah Khan dan Hasanudin (Bupati banten).

    Perjanjian damai dengan Cirebon memberikan peluang kepada Surawisesa untuk mengurus dalam negerinya. Setelah berhasil memadamkan beberapa pemberontakkan, ia berkesempatan menerawang situasi dirinya dan kerajaannya. Warisan dari ayahnya hanya tinggal setengahnya, itupun tanpa pelabuhan pantai utara yang pernah memperkaya Pajajaran dengan lautnya. Dengan dukungan 1000 orang pasukan belamati yang setia kepadanyalah, ia masih mampu mempertahankan daerah inti kerajaannya.

    Dalam suasana seperti itulah ia mengenang kebesaran ayahandanya. Perjanjian damai dengan Cirebon memberi kesempatan kepadanya untuk menunjukkan rasa hormat terhadap mendiang ayahnya. Mungkin juga sekaligus menunjukkan penyesalannya karena ia tidak mampu mempertahankan keutuhan wilayah Pakuan Pajajaran yang diamanatkan kepadanya. Dalam tahun 1533, tepat 12 tahun setelah ayahnya wafat, ia membuat sasakala (tanda peringatan) buat ayahnya. Ditampilkannya di situ karya-karya besar yang telah dilakukan oleh Susuhunan Pajajaran. Itulah Prasasati Batutulis yang diletakkannya di Kabuyutan tempat tanda kekuasaan Sri Baduga yang berupa lingga batu ditanamkan. Penempatannya sedemikian rupa sehingga kedudukan antara anak dengan ayah amat mudah terlihat. Si anak ingin agar apa yang dipujikan tentang ayahnya dengan mudah dapat diketahui (dibaca) orang. Ia sendiri tidak berani berdiri sejajar dengan si ayah. Demikianlah, Batutulis itu diletakkan agak ke belakang di samping kiri Lingga Batu.

    Surawisesa tidak menampilkan namanya dalam prasasti. Ia hanya meletakkan dua buah batu di depan prasasti itu. Satu berisi astatala ukiran jejak tangan, yang lainnya berisi padatala ukiran jejak kaki. Mungkin pemasangan batutulis itu bertepatan dengan upacara srada yaitu “penyempurnaan sukma” yang dilakukan setelah 12 tahun seorang raja wafat. Dengan upacara itu, sukma orang yang meninggal dianggap telah lepas hubungannya dengan dunia materi.

    Surawisesa dalam kisah tradisional lebih dikenal dengan sebutan Guru Gantangan atau Munding Laya Dikusuma. Permaisurinya, Kinawati, berasal dari Kerajaan Tanjung Barat yang terletak di daerah Pasar Minggu, Jakarta Selatan, sekarang. Kinawati adalah puteri Mental Buana, cicit Munding Kawati yang kesemuanya penguasa di Tanjung Barat.

    Baik Pakuan maupun Tanjung Barat terletak di tepi Ciliwung. Di antara dua kerajaan ini terletak kerajaan kecil Muara Beres di Desa Karadenan (dahulu Kawung Pandak). Di Muara Beres in bertemu silang jalan dari Pakuan ke Tanjung Barat terus ke Pelabuhan Kalapa dengan jalan dari Banten ke daerah Karawang dan Cianjur. Kota pelabuhan sungai ini zaman dahulu merupakan titik silang. Menurut Catatan VOC tempat ini terletak 11/2 perjalanan dari Muara Ciliwung dan disebut jalan Banten lama (oude Bantamsche weg)].

    Surawisesa memerintah selama 14 tahun lamanya. Dua tahun setelah ia membuat prasasti sebagai sasakala untuk ayahnya, ia wafat dan dipusarakan di Padaren. Di antara raja-raja zaman Pajajaran, hanya dia dan ayahnya yang menjadi bahan kisah tradisional, baik babad maupun pantun. Babad Pajajaran atau Babad Pakuan, misalnya, semata mengisahkan “petualangan” Surawisesa (Guru Gantangan) dengan sebuah cerita Panji.

  56. DJUNAEDI perlu bukti
    1 April 2012 pada 04:38 | #81

    tah sumber nu tadi di http://www.wikipedia.org akurat

  57. branda jesicka
    11 April 2012 pada 20:22 | #82

    kyak ya salah dech klo keturunan salacau

  58. branda jesicka
    11 April 2012 pada 20:33 | #83

    yang ada didaerah cibungur itu yg masuk k bojongasih ada juga keturunan sukapura,, raden sukatma atmaja,, semua orang tau kyk ya,, ini ada sultan dr goa ucing,, ha ha ha ha

  59. ujang goa ucing
    11 April 2012 pada 20:38 | #84

    pak h.jana, tolong hentikan smuanya,,masyarakat dsana udah pada resah,, dgn segala kegiatan dia,,

  60. sakabeh warga tasik selatan
    11 April 2012 pada 20:41 | #85

    kami selaku warga masyarakat tasik selatan, merasa trganggu. dengan segala kegiatan yang ada disini,mohon pemerintah daerah kab tasikmalaya memperhatikan nasib kami,,,,

  61. 21 April 2012 pada 18:08 | #86

    Pun sampun Hapunten anu kasuhun. wanci mustari ngahiang permana tunggal . Asalammuallaikum Wr. Wb. upami urang kersa ngalenyepan Wangsit Siliwangi Tangtos moal Ka bongroy ku megahna ka pangkatan sareng ku hibarna kadudukan. raja nu satia lain raja nu ngaku raja tapi raja nu ngahiji jeung rahayatna silih asih silih asuh nulung kanu butuh nalang kanu susah. siar hiji hiji arti tina kahirupan sangkan urang teagul ku payung butut teu balubah ku pangaboga. raja nu sajati estu raja nu mawas diri nu teu poho ka temahwadi caringcing pageuh kancing saringset pageuh iket. urang ngan kadar manusa anu cenah teureuh raja tapi tepi kawanci kiwari urang can apal saha budak angon saha budak janggotan. mun pareng geus tepung urang moal kadaruhung. cing luhung jalu!!!

  62. 22 April 2012 pada 10:06 | #87

    Pun Sampun hapunten anu kasuhun, Asalammuallaikum Wr, Wb. Sunda kasundaan teu ujug-ujug aya di jejeran kucarita anu natrat, undur jaman datang jaman ganti dei lalakon
    lalakon nu rupa- rupa ngawuwuh carita nu jadi loba. urang salaku manusa biasa ngan bisa marengan lalakon sok sanajan teu apal awal akhirna anging kersaning Alloh Taala nu nangtukeun obah na jaman. Saur Prabu Siliwangi “Raja nu sajati nyaeta Raja anu apal ka rahayatna, ngaing teu pantes jadi Raja mun somah sakabehna kalakah lapar jeung balangsak”. sumangga ayeunamah urang lenyepan Wangsit Siliwangi nu kumaha nu pantes jadi raja teh. sok urang siar hiji-hiji sangkan urang geuwat masagi ngan kudu inget nu bakal jadi raja lain jalma nu agul ku pangkat, lain nu ngukur kanu pangkat, lain nu serab ku pangkat. nu bakal jadi raja estuna jalma nu geus apal kanu dirina ti mana asal kamana balik.
    nu ngatik kanu leutik, teu luhur saur teu bahe carek asak sasar asak jeujeuhan teu poho katemah wadi teu adigung gede hulu, lantip lancip leuleus, jeujeur liat tali luhung ku pangaweruh jembar ku panalar. bral geura moyan lamun geus kasiar hiji-hiji. ngan omat Raja nu sajati TARA NGANYERIKEUN JALMA NU LEUTIK. Wassalam…… TUBAGUS WIKARTA SURYAKUSUMAH ti Lebak Larang Sumedang. HIBAR BUANA Tlp. 085322270902

  63. rangkasbitung
    25 April 2012 pada 12:46 | #88

    Lanjutkan kang langkahmu

  64. Abang
    19 Mei 2012 pada 03:22 | #89

    Assalamualaikum Bapak TB.Wikarta Surya Kusuma..Alhamdulillah saya bertemu anda . sebagai keturunan 13 dari kesultanan Banten… ternyata hati Anda seperti Kakek Buyut TB,Syarif yang berjuang … dengan warisana kelembutan jiwa Anda dalam syiar dan kekuatan Qulbu Anda yang berdiri membela yang benar..Wassalam.Kibuyut Jaga Raksa Pangeran Jakalelana Banten,Kampung Cadasari,Tejamari.Serang Banten yang kini bermukim di Parungponteng,Tasikmalaya. Salam Hormat Kesultanan Banten.

  65. NS
    25 Mei 2012 pada 15:18 | #90

    Subhanalloh …… sagalarupi oge pami Alloh ngersakeun pasti jadi Kunfayakun

  66. 31 Mei 2012 pada 11:46 | #91

    hatur nuhun atos lungsurna bocah angon anu diantos kupara masyarakat nusantara buktosna kedah di tingalikeun knu awam

  67. 31 Mei 2012 pada 11:59 | #92

    saeeeeeeeeeeeeeeeeee

  68. ade
    31 Mei 2012 pada 12:01 | #93

    sae

  69. ade
    31 Mei 2012 pada 12:03 | #94

    maju terus pantrang mundur.aku siap dukung

  70. 31 Mei 2012 pada 12:10 | #95

    bung RDN iraha ay wktos nglalangkung deui ka TERMINAL INDIHIANG ???kmri saur pak ustad wktosna skdap pisan ,upami ay wktos nyalse abi hyong ptepang

  71. 31 Mei 2012 pada 12:20 | #96

    Bung RDN upami ngintun dei majalah ka pa ustad masjid terminal indihiang,Di haturanan linggih ka kios vidara margi seer pisan katertarikan anu di paparken dina majalah PATRA KUSUMA

  72. 31 Mei 2012 pada 12:37 | #97

    hapuntn,,, kasaha wae jalmina anu tos ngolok-ngoloken per sejarahan sing enggal di pasihan taupik serta hidayah enggal di caangkn hatina tiasa ningali kana ka Agungan Alloh sing sabar,jembar, pikn dongkapna ku cacian,hinaan Alloh moal siloen kanu kumaha bae

  1. Belum ada trackback.

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.