Beranda > Pemerintahan > Drs. Tatang Bachtiar Tuntut Penegakan UU Pokok Kepegawaian Penjenjangan Karir PNS Harus Profesional

Drs. Tatang Bachtiar Tuntut Penegakan UU Pokok Kepegawaian Penjenjangan Karir PNS Harus Profesional


Karangnunggal– Sistem penjenjangan karir PNS di Kabupaten Tasikmalaya saat ini dinilai sudah tidak mengacu kepada UU Pokok Kepegawaian RI. Hal ini berdampak pada kinerja PNS yang tidak profesional, sehingga menyebabkan banyak pihak yag dirugikan. Demikian dikemukakan Drs Tatang Bachtiar (TB), Kepala Desa Karangnunggal Kecamatan Karangnunggal, kepada media pada jumpa pers baru-baru ini di rumahnya.
Dia menerangkan, mencuatnya masalah ini sebetulnya telah cukup lama di wilayah Kabupaten Tasikmalaya. Tradisi ini menurut Tatang telah merusak tatanan sistem kepegawaian di daerah. Sehingga tak jarang, para pegawai atau pejabat karir tersisihkan oleh pejabat yang mempunyai lobby khusus kepada atasannya.
“Sistem ini benar-benar aneh, karena tidak mengacu pada Daftar Urut Kepangkatan (DUK). Masak ada Kepala Dinas seperti Dishub yang gelarnya S.Ag  atau ada Camat yang latar belakangnya guru. Terus mau dikemanakan dong lulusan STPDN yang sudah nyata nyata mempunyai keahlian di bidangnya,” ungkapnya dengan pedas.
Disisi lain, tugas dan fungsi Pegawai Negeri Sipil di wilayah juga harus mengalami perubahan paradigma, dari aparatur negara menjadi abdi negara. Hal ini selaras dengan perubahan UUP Kepegawaian RI No 8 tahun 1974 yang telah diubah dengan UUP No 43 tahun 1999. “Sebagai abdi negara, PNS berarti harus mengadi kepada negara, yang secara otomatis berarti mengabdi kepada masyarakat. Dengan demikian, orientasi PNS adalah sebagai abdi masyarakat dan juga selaku pelayan masyarakat (public service)”, jelas Tatang.
Lebih jauh lagi, hal ini berarti masyarakat berhak menilai keberhasilan Pegawai Negeri Sipil dalam melaksanakan tugas yang dalam melayani kepentingan mereka. Karenanya pelayanan ini dituntut harus dilakukan secara profesional serta mampu memberi suri tauladan kepada masyarakat.
“Yang tak kalah pentingnya, sistem dan pola rekrutmen pejabat harus di dasarkan kepada UUP tersebut, bukan didasarkan pada loyalitas pada saat dia ikut mendukung salah satu kandidat Bupati. Atau apalagi untuk mempertahan kan status quo. Sehingga apabila kandidat yang didukung itu berhasil, maka dia akan mendapat kemudahan didalam menempati posisi posisi strategis. Tetapi apabila dia salah mendukung, maka celakalah dia karena akan terpental, walaupun dia punya skill bagus,”katanya lagi.
Hal-hal yang bersifat subyektifitas ini katanya, apabila dibiarkan maka tidak menutup kemungkinan jabatan pelayanan publik ini dipegang oleh manusia yang bukan ahlinya. Disisi lain, loyalitas pengabdianya juga bukan kepada masyarakat sebagai pemilik negara, namun kepada pihak yang menempatkannya. Maka, tak heran jabatan yang lebih tinggi ini dijabat oleh PNS dengan golongan yang lebih rendah dari pada anak buahnya.
“Maka alangkah baiknya apabila birokrasi sipil meniru sistem jenjang karier militer yang lebih berhasil didalam merubah paradigmanya. Mereka bisa bertindak netral dan professional didalam penyelenggaraan Pemilu. Contohnya, di dalam militer mana ada Dandim berpangkat mayor, sedangkan Kasdimnya Letkol. Berdirilah PNS sebagai Abdi Negara, jangan terlibat dengan kepentingan sesaat, siapapun Presidennya, Gubernurnya, Bupatinya. Anda adalah PNS sebagai pegawai negara bukan pegawai Pak Bupati, Pak Gubernur, atau Pak Presiden. PNS juga bukan Pegawai Wilhelmina Ratu Belanda dulu, tetapi sebagai PNS NKRI,”katanya.(Kanjeng Mareta)

Kategori:Pemerintahan
  1. Denta
    26 Agustus 2010 pukul 15:35

    Waduh pa sekarang mah banyak birokrat ‘Leletak’ soalnya kalau menentang so pasti di mutasi, jauhnya lagi paling banter jadi staf ahli
    Nasib…nasib…

  2. asep
    27 Agustus 2010 pukul 01:26

    Muhun pa kades satuju pisan , teu ngiringan mah ngacleng kang ayeuna mah , aah api api we dari pada ngapung ka leuweung

    • mukhlasin
      6 September 2010 pukul 00:52

      MUHUN KANG ASEP KUMAHA KABARNA AYEUNA , MASIH KENEHKAH NGAJAR DI KARANGNUNGGAL INGET TEU KA ABDI MUKHLASIN TEA MANTAN GURU SMK KARANGNUNGGAL TAHUN 1994 FACE BOOK mukhlasin_76@yahoo.co.id

  3. Yuri Garut
    27 Agustus 2010 pukul 22:52

    Untung di garut mah teu aya nu kitu, xixixixixixixi….

  4. Y. Siswandi
    1 September 2010 pukul 01:54

    teu kudu dipermasalahkeun jabatan seseorang dgn disiplin ilmu yang dia miliki mah, yg penting jujur, adil, frofesional, nyaah ka rakyat. teu ngajamin sing ti STPDN ge gening kampus na ge kalah di tutup di ganti ku IPDN,kunaon Cing? Jawab We Olangan! justru sy mah muji cacakan ti guru manehna mampu ngajalanken jabatan sebagai camat. nu penting pengalamanana dina masalah gawe mah. jabatan Kades oge teu saetik nu ti SD/SMP ari mampu mah teu eleh ku sarjana geningan. kemampuanana nu penting mah! hahaha. manawi katampi

  5. Cecep Rahmat El-Cikatomasy
    2 September 2010 pukul 04:13

    Assalamu’alaikum…

    setuju pisan dengan pendapat, bukan lulusan mana dia, yang penting kemampuannya. sekarang ini banyak lulusan agama yang mampu menjadi bupati bahkan gubernur. salah satu contoh Gubernur NTB adalah lulusan Al-Azhar, Cairo. yang penting mampu, bersih dan profesional.

    masih aya nyah anu sok di acleng-aclengkeun upami teu sependapat sareng atasana, hawatos atuh bilih di aclengkeun ka leuweung.🙂

  6. manusia Perihatin
    4 September 2010 pukul 05:00

    betul yang dikatakan saudara2 sekalian.. kalau memang guru jadi camat, bagaimana ngaturnya??? kalau guru konsentrasilah jadi guru yang mendidik dan propesional. bukan untuk mengatur masyarakat seperti di Kecamatan. nanti anggapanya Masyarakat disamakan dengan murid yang harus diajarin dan di dongengi.. kacau bila semua ini terjadi..

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: