Beranda > Umum > Jembatan Kulur Di Cipatujah Menanti Perbaikan

Jembatan Kulur Di Cipatujah Menanti Perbaikan


Cipatujah– Jembatan besar di sekitar kampung Kulur Desa Ciandum Kecamatan Cipatujah saat ini dalam kondisi hancur total pasca dilanda banjir besar sekitar 4 bulan lalu. Jembatan yang membentang  di sungai Cipanyerang itu, selama ini menjadi urat nadi kehidupan warga Desa tersebut. Juga sekaligus menjadi penghubung dengan desa-desa sekitarnya, meliputi Desa Sukahurip dan Nagrog. Jembatan inilah yang selama digunakan untuk mengangkut hasil bumi warga terutama seperti kayu, pisang, dan gula kelapa.

Lilis, salah seorang warga mengaku miris dengan kenyataan tersebut. Soalnya anak-anak sekolah setiap harinya harus melewati sungai tersebut. Mereka dipaksa harus ngaraas (nyebrang dengan berendam-red), yang tentunya mendatangkan resiko tersendiri buat mereka. Kebanyakan adalah para siswa SDN Cileungsir, serta sebagian lagi siswa SMPN Cipatujah. Sewaktu-waktu, sungai Cipanyerang bisa banjir bandang tanpa bisa diduga sebelumnya.

“Bahkan, guru-gurunya juga harus ngaraas. Kalau datang hujan, atau banjir semuanya buntu. Kami hanya berharap sampai airnya surut,”ujar pemilik warung di pinggir sungai ini.

Sementara itu, Dedi salah seorang pengusaha kayu, menjelaskan, jembatan tersebut selama ini mampu menghidupkan geliat ekonomi warga. Apalagi desanya mempunyai nilai produksi yang tinggi, khususnya komoditas kayu yang rata-rata mencapai 20 kubik lebih tiap harinya. Belum lagi dari buah pisang rata-rata 3 ton per hari, serta gula kelapa dengan produksi mencapai sekitar 3c ton per minggu.

Semuanya itu katanya, ditarik memakai ojek palang, yang harus melewati sungai ini. Otomatis harus menambah pula ongkosnya. Meliputi ongkos pikul kayu waktu menyeberang, dan buat biaya menggotong motor. Bahkan belajaan warung dari kota juga harus ditambah ongkos untuk menyeberangkannya.

Hal ini diakui oleh Entis, warga setempat yang sehari-hari menjadi buruh menyebrangkan. Untuk kayu, dia mematok harga Rp 15 ribu perkubik, sehari dia bersama rekan-rekannya mampu hingga 20 kubik. Sedangkan untuk menyeberangkan sepeda motor masing-masing 10 ribu per buah. Namun, kalau pisang dan gula aren agak jarang dia seberangkan.

Hal ini menambah bukti keterbelakangan wilayah Tasela. Jembatan hancur juga terdapat di sekitar desa Pameutingan Kecamatan Cipatujah, dan mengisolir warga sekitarnya. Masalah keduanya pun serupa, dan hingga kini kedua jembatan tersebut belum kunjung diperbaiki Pemerintah. (Kanjeng)

Kategori:Umum
  1. 14 Juli 2012 pukul 11:29

    Assalamu alaikum ww Dengan kerja bakti warga dan bahan material dari kami sudah dibuatkan jembatan 30meter tinggi 6.5m lebar 1.5m (hanya muat ojek palang). Itu adalah salah satu dari tiga bantuan sosial kami di dusun ini.

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: