Beranda > Umum > KELAS AMBRUK, MURIDPUN BELAJAR DI SAUNG

KELAS AMBRUK, MURIDPUN BELAJAR DI SAUNG

KARANGNUNGGAL,  Murid  SDN Neglasari, kecamatan Karangnunggal, dari mulai tingkat kelas 2 terpaksa belajar di dalam “saung”, sudah  hampir 7 tahun lamanya mereka belajar di sana. Penantian atas ruang kelas baru pun menjadi harapan setiap hari bagi para murid dan guru, walaupun pada kenyataannya  sampai saat ini mereka hanya bisa pasrah menunggu kepastian datangnya ruang belajar yang refresentatif dan nyaman.

Kejadian hilangnya ruangan belajar di SDN Neglasari, bermula pada 7 tahun yang lalu, tepat pada malam menjelang Idul Adha tahun 2004 silam, sebanyak 1 lokal bangunan yang terdiri dari 4 ruang kelas, tiba-tiba roboh. Menurut informasi yang dihimpun Taselamedia, robohnya bangunan tersebut dikarenakan kondisi bangunan  yang sudah rapuh dan tua di makan usia.

Seperti yang diterangkan  Eman, S.Pd.  salah seorang guru di SDN Neglasari. “Memang bangunan SDN Neglasari ini sudah cukup tua dan juga rapuh, sehingga wajar saja ketika tahun 2004 lalu, tiba-tiba ambruk, tapi beruntung ambruknya di saat malam, jadi tidak menimbulkan korban jiwa” terang Eman, S.Pd,yang telah lebih dari 10 tahun mengabdi, dan juga merupakan alumni SDN Neglasari.

Robohnya 4 ruang belajar tersebut juga mengagetkan pihak Muspika dan UPTD Pendidikan Karangnunggal. Sehingga tepat pada hari itu juga, kerusakan yang terjadi pada SDN Neglasari tersebut didata dan dilaporkan.

Sementara itu dari dua kelas yang masih berdiri, satu ruangan dipakai untuk ruang guru, dan  karena kebutuhan ruangan yang sangat mendesak, akhirnya ruangan rumah penjaga sekolah pun dipakai sebagai kelas, serta menggunakan ruangan panggung tempat kreasi seni anak-anak yang dibangun oleh dewan komite sekolah beberapa tahun sebelumnya. Penggunaan dari ruangan tersebut pun dibagi menjadi dua kelas. Dan masih tersisa kebutuhan 2 ruangan lagi.

Konon, sebagai langkah antisipasi awal untuk memenuhi 2 ruangan kelas tersebut, pihak Dewan Komite Sekolah bersama dengan pihak sekolah mendirikan saung yang beratapkan “Hateup”, dengan tiang penyangga yang terdiri dari bambu, tepat diatas hamparan lantai bekas ruang belajar yang ambruk. Ternyata kejadian tersebut pun berlangsung cukup lama, hampir selama 4 tahun.

Menjelang tahun 2008, ruang kelas darurat tersebut, pindah bergeser lokasi, namun tetap dalam saung, hanya sedikit saja peningkatannya,yakni atapnya menggunakan asbes. Awal tahun 2010, kembali ruang kelas darurat tersebut dipindah ke atas hamparan lantai bekas kelas yang dulu ambruk. Kini saung ruang belajar darurat tersebut, meningkat lagi atapnya menggunakan genteng sisa, dengan dinding bilik dan tak berkaca. Ruangan yang disekat menjadi 2 kelas tersebut pun kecil, hanya berukuran 11mx5m.

Keadaan ruangan belajar yang tidak memadai tersebut, berlangsung selama 7 tahun. Berbagai kisah pilu dari murid pun sudah tercatat banyak. “abdi mah sok alim sakola upami hujan, margi di kelasna poek, jaba seueur reungit. Teras upami aya guludug, sok deg-degan jantung teh da kelasna teu aya kacaan, sieun kabentar” ungkap salah seorang siswi kelas 5, yang menempati ruang belajar darurat tersebut.

Hal senada pun dirasakan oleh para guru. “selain perasaan kasihan kepada anak didik, kami juga merasa tidak bisa optimal dalam menjalankan KBM, karena ruangannya hanya disekat bilik, dan yang menempati ruang darurat ini terdiri dari kelas 2 dan kelas 5, jadi kalau menerangkan materi itu harus giliran, karena suaranya akan sampai ke ruangan sebelahnya” ungkap Eman S.Pd.

Sementara, dalam kesempatan yang berbeda, Kepala SDN Neglasari, Saja, S.Pd, menerangkan bahwa pihaknya telah semaksimal mungkin mengajukan permohonan Ruang Kelas Baru (RKB) kepada pihak terkait. “Sejak awal bertugas di sini sekitar 3 tahun lalu, saya setiap tahun dan setiap ada kesempatan, selalu mengajukan permohonan Ruang Kelas Baru kepada pihak terkait, namun dari catatan yang ada di sekolah, sejak kejadian ambruk tersebut, baru 2 kali mendapatkan bantuan yakni DAK tahun 2006 dan DAK 2009, dan bantuannya bersipat rehab 2 ruang kelas dari masing-masing DAK tersebut, dan kami gunakan untuk merehab ruang kelas yang juga sama sudah tua dan rapuh” jelas Saja, menerangkan bantuan yang didapatkan oleh SDN Neglasari, yang belum mampu menutupi kebutuhan ruang belajar secara keseluruhan.

Saja pun mengharapkan datangnya bantuan yang bisa memberikan semangat dan harapan yang lebih baik buat murid-muridnya, “Saya sangat berharap datangnya bantuan pembangunan ruang kelas baru, karena saya takut, dengan keberadaan ruang belajar yang tidak layak tersebut, dapat mempengaruhi psikologi anak didik, saya takut mereka jadi tidak bersemangat untuk sekolah” pungkasnya. (Azmy)

 

 

Kategori:Umum
  1. rucksuck
    17 Februari 2011 pukul 20:56

    Potret Pendidikan di Tasikmalaya yang Religius Islami…
    “Carilah ilmu sampai negeri Yaman karena ilmu tak mencari uang” tetaplah semangat dan teruslah belajar adik2 ku, sebab kalian beruntung masih bisa sekolah, orang tua mu dulu tidak seberuntung kalian…

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: