Beranda > Umum > Eris Rachmat, Seniman dari Tasela Mampu Menyulap Pasir Besi Jadi Bahan Guci

Eris Rachmat, Seniman dari Tasela Mampu Menyulap Pasir Besi Jadi Bahan Guci

Eris, pembuat guci berbahan pasir besi

Tasela. Pasir besi di sulap menjadi Guci? Mungkin bagi sebagian orang agak terdengar aneh dan mustahil. Soalnya, selama ini bahan tambang ini lazimnya digunakan untuk bahan industri metal, dan berskala besar. Saat ini pun, di sepanjang pantai Tasela, tengah marak penambangan pasir besi ini  dengan skala besar-besaran serta menjadi  perbincangan banyak orang. Mulai dari masyarakat awam, politisi, pejabat, dan para aktivis lingkungan hidup. Penambangan pasir besi pun menjadi kontroversi.

Kondisi ini rupanya mengilhami Eris. Sarjana jebolan Fakultas Seni Rupa UPI Bandung tahun 2009 ini  begitu berhasrat menjadikan pasir besi sebagai barang seni bercita-rasa tinggi. Sekaligus menjadi sebuah protes terhadap penambangan pasir besi yang menurutnya mengakibatkan banyak kerusakan lingkungan dan sarana milik umum.

Sementara, membuat Guci berbahan pasir besi katanya, sebetulnya tak terlalu sulit. Karena bahan guci sendiri sudah ada dan banyak dijual di pasaran. Namun yang sulit katanya, saat barang tersebut harus menjadi barang seni bercita rasa tinggi. Diapun kemudian memadukan bahan-bahan natural seperti kulit pelepah pinang, dan kulit pohon pisang. Dengan casing itu, guci tembikar biasa, menjadi terlihat artistic dan unik.

“Sebetulnya, tadinya saya ingin mengangkat bahan-bahan kayu dari sampah laut. Tapi saya urungkan, karena bahan-bahan ini kan sudah kerap diangkat sebagai tema pembuatan barang seni. Akhirnya saya pilih pasir besi,”katanya kepada Taselamedia saat ditemui di rumahnya di Desa Sukamaju Kecamatan Bantarkalong, kemarin.

Selain buat guci, pasir besi juga dia gunakan untuk barang seni lain seperti lukisan alam, kaligrafi, gantungan kunci, dan lain-lain. Semua karyanya sudah pernah diikuitsertakan dalam pameran senirupa di Bandung. Banyak yang sudah mengapresiasi, termasuk salah satu stasiun tivi swasta nasional ikut tertarik mengangkatnya menjadi topik pemberitaan.

Beberapa karya Eris sedang di amati pengunjung galerynya di Pamijahan

Kini, hasil karyanya terlihat di kios-kios penjual cinderamata disepanjang lorong menuju makam Syech Abdul Muhyi Pamijahan.

“Tetapi sebetulnya saya masih tahap pencarian (gaya seni). Ini baru tahap awal. Masih banyak yang mesti dikembangkan. Mungkin nanti seni ini juga menjadi kegiatan rakyat, jadi seni untuk masyarakat yang bisa menciptakan lapangan pekerjaan,”ujar pengagum seni posmodern ini.

Bagi Eris Rachmat Taufik, pasir besi adalah sebuah inspirasi. Dikala ekspolitasi barang tambang ini nyaris tak terkendali dan mengancam lingkungan sepanjang pantai Tasela, dia memanfaatkannya sebagai barang seni bercita rasa tinggi. Sekaligus menjadi lambang protes dirinya terhadap eksploitasi pasir besi.(Mareta)

 

Kategori:Umum
  1. penyu jkt
    3 Maret 2011 pukul 04:25

    nah ini baru pemampaatan sumber daya alam yg bijak

  2. cep badru
    8 Maret 2011 pukul 22:08

    baiklah.. okelah.. baguslah.. ya sudahlah… daripada jd proyek penguasa yg ga jelas, lebih baik jd karya yang kreatif, gitu donk.

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: