Beranda > Umum > Pelosok Beratus Kali Belok

Pelosok Beratus Kali Belok

Salah Satu Tikungan Tajam di Wilayah Tasela

“Duh jalanannya bikin pening, banyak belokannya,”keluh teman saya yang baru-baru ini mengunjungi kampung halamannya di daerah Cipatujah. Bagi dia, jalan berbelok  mungkin jarang dia temui karena selama puluhan tahun besar di Ibukota. Walaupun aslinya dia lahir di daerah Cipatujah, dia juga  berdarah campuran. Moyangnya berasal dari keluarga saudagar Melayu Pontianak, Keraton Solo, dan tentu saja berdarah Sunda asli Cipatujah. Pulang kampung alias PK tentunya menjadi sangat  jarang atau masih bisa dihitung dengan jari. Dalam 5 tahun mungkin hanya satu kali PK.

Kalau dipikir-pikir memang iya juga, kampung halaman kita, ternyata penuh belokan tajam. Ini rupanya yang bikin orang malas ke Tasela, apalagi kalau harus naik kendaraan umum. Bagi yang belum terbiasa, dijamin pusing tujuh keliling. (Kenapa juga istilahnya harus begitu? Padahal pusing delapan keliling mungkin lebih keren, dan lebih pusing tentunya). Sebagian orang bahkan harus muntah-muntah di mobil. Oekk….Hoeks…….

Suatu waktu saya pernah iseng, menghitung berapa banyak belokan darikota Tasikmalaya sampai daerah Karangnunggal. Ternyata jumlahnya lebih dari 200 belokan. Itu belum termasuk pengkolan kecil yang kurang layak disebut sebagai belokan. Kalau tak percaya, boleh hitung sendiri deh. (Pengkolan # belokan??).

Saya jadi berpikir, inilah rupanya yang menjadi alasan kenapa banyak pengusaha besar yang enggan menanamkan modal di daerah ini. Buat apa juga mereka berinvestasi di daerah pelosok (indikatornya banyak belokan) yang tak jelas masa depan usahanya. Selain penuh belokan, jalannya juga hancur akibat truk pasir besi dengan muatan diluar batas perikemanusiaan. Ini juga yang membuat masyarakat Tasela baru-baru ini teriak-teriak memprotesnya.

Tapi biarkanlah masalah itu. Tak ada artinya kita kritik. Mending kita bicarakan kembali soal belokan. Ini lebih riil dan menarik. Dan mungkin lebih bisa ditanggapi pemerintah daerah.

Adasebuah cerita. Si Kabayan konon suatu saat pernah protes sama sopir bus karena terlalu sering banting stir. Kepalanya pening bukan main, sampai-sampai kantong keresek sudah penuh dengan muntahan bubur ayam yang dibelinya di terminal Cilembang, sebelum pindah ke terminal Indihiang.

“Pir, biar cepat ga usah bulak belok. Lempengin we atuh,”katanya sambil meringis menahan pening dan perutnya yang melilit-lilit.

“Biar cepat kemana maksudnya Kang Kabayan,”tanya si Sopir keheranan.

“Biar cepat sampai di akherat,”ujar si Kabayan kalem.

Derita si Kabayan mungkin tak seberapa, karena masih bisa diatasi dengan minum obat anti mabok. Paling-paling ngantuk, dan dompet melayang akibat disambar copet. Itu sih derita sendiri. Siapa suruh naik bis? Hehe..

Tapi coba bayangkan, orang yang mau berobat ke RSUD dikotaTasikmalaya. Misalnya orang yang kecelakaan akibat tabrakan di jalan raya. Konon kecelakaan lalulintas di daerah ini cukup tinggi. Dan banyak diantaranya yang musti dirujuk ke RSUD karena Puskesmas Rancamaya (Puskesmas terbesar di Tasela) tak mampu menanganinya akibat keterbatasan fasilitas dan tenaga medis. Di Tasela sampai sekarang belum ada alat transfusi darah, radiologi, apalagi semacam fasilitas bedah besar bagian dalam tubuh.

Bagaimana juga dengan pasien wanita yang mengalami perdarahan akibat melahirkan? Konon, dalam kebanyakan kasus, pasien dengan masalah perdarahan banyak yang keburu meninggal di jalanan akibat terlambat ditangani. Belum lagi, kondisi pasien diperparah akibat terguncang-guncang jalan butut dan belokan tajam.

Tapi kalau mau kita teliti, Tasela sebetulnya tidak terbelakang-belakang amat. Di zaman revolusi, Tasela konon pernah menjadi basis perjuangan RI. Gubernur Jabar pertama Sewaka pernah mengungsi dan menjadikan pusat pemerintahan Propinsi saat mengungsi di daerah Lebaksiuh Kecamatan Culamega. Saya pikir beliau mengungsi ke daerah ini bukan karena alasan jalan Tasela yang berbelok-belok. Lebih karena pertimbangan sisi keamanannya yang menjamin.

Di daerah ini juga terdapat makam Kanjeng Syech Abdul Muhyi di Pamijahan. Beliaulah rupanya yang menjadi cikal bakal penyebaran Islam di Tasikmalaya. Semasa Belanda, daerah kekuasaannya sangat dihormati dan tidak tersentuh kaum penjajah, dikenal dengan istilah daerah Pasidkah. Kini, ratusan orang dari berbagai daerah diIndonesiasetiap harinya berziarah ke Pamijahan.

Pemerintah Daerah pun diuntungkan dengan adanya makam Kanjeng Syech Abdul Muhyi. Bukan rahasia lagi, sumber PAD terbesar Kabupaten Tasikmalaya didapat dari retribusi kendaraan wisata yang masuk ke daerah itu. Berikut retribusi parkirnya. Itu belum termasuk penjualan souvenir, jajanan, jasa antar, dan penginapan warga setempat. Hingga detik ini, pariwisata tetap menjadi andalan ekonomi masyarakat sekitarnya.

Karena jasa mulia beliau, mungkin sangat layak diangkat sebagai pahlawan Devisa Daerah, karena mampu menghidupkan ekonomi masyarakat. Selain sebagai Pahlawan Nasional tentunya, karena jasanya saat melawan kolonialisme Belanda.

Tetapi kenapa juga ya, sampai sekarang Tasela belum maju?

Adabanyak alasannya. Tasela sampai sekarang belum ditunjang oleh fasilitas-fasilitas umumnya, seperti adanya Gardu Induk (GI). Fasilitas ini menjadi prasyarat tumbuhnya industri, karena pasokan listrik di daerah ini masih belum optimal, sering padam, dan kurang daya.

Di daerah ini juga butuh Rumah Sakit dengan skala besar. Kita juga butuh Perguruan Tingggi (PT) yang memadai, agar para pelajar kita tidak kesulitan untuk melanjutkan pendidikannya karena harus ke luarkotaatau harus kekotabesar. Selama ini, pendidikan PT menjadi barang yang mahal. Bukan semata karena masalah ongkos transportasi, juga masalah biaya hidupnya yang mahal. Ini yang harus dipikirkan para pejabat kita, para pemimpin kita, dan juga mereka yang punya janji politik dengan warga Tasela. Dan janji itu, sudah saatnya untuk dibayar.(Kanjeng)

Kategori:Umum
  1. 20 April 2011 pukul 11:36

    betul…betul…beteul… Untung rumah abi teu di dinya..

  2. penyu btwi
    20 April 2011 pukul 14:14

    saur saha titasik ka karang
    200 pengkolan puguh mung
    2 pengkolan kakenca sareng
    katuhu.

  3. cep bADRU
    20 April 2011 pukul 17:40

    lah sidik ngan 2 pengkolan, kiri dan kanan, aya2 wae. tp sae kang

  4. obet_ok
    22 April 2011 pukul 08:49

    aduh ampunn, kmaren2 k karangnunggal berkunjung k rumah temen (Ali-SukaPuraFm)promosi_ahaha
    belokannya g abis2, temen muntah2 terus ampe g ada kresek tersisa,,ahaha
    tp terobati dgn silaturahmi dan goa pamijahan yg mantap

  5. Anak Bandunk
    22 April 2011 pukul 21:39

    Betul tuh, jalan tasela bulak belok, can ge tamat belok kanan eeeehhhh dah belok kiri lagi, kapooooook

    • cep bADRU
      24 April 2011 pukul 09:45

      driiii..

  6. 23 April 2011 pukul 12:15

    Makanya saya juga hijrah ke singapore..(singpaparna) kalo pulang ke bojongasih anaknya g kwt mabuk trs.. Palagi jalan ke bojongasih selain byk belokan, tanjakan, garekgok dei… Bupati baru tolong di perbaiki

  7. durianmontonk
    23 April 2011 pukul 18:51

    kembalilah ke jalan lurus.. mungkin pada bengkok juga pikirannya ya hahahaha…

  8. 28 Desember 2012 pukul 20:42

    Rute jalan sindangreret menuju cidadap parah pisan, mohon d perbaiki. Terimakasih!

  9. Ujang Kodir Tarisi
    5 Juni 2013 pukul 19:43

    ngeunah nyupiran mobilna, jadi teu tunuh

  10. 18 Mei 2014 pukul 07:51

    Hi to every , since I am in fact eager of reading this webpage’s post to be updated on a regular basis.
    It includes good information.

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: